Ketika Kemampuan “30-Second Rule” Begitu Membantu Keterampilan Networking

Pernah mendengar istilah “30-Second Rule” yang dikenalkan oleh John Maxwell, dalam bukunya yang berjudul 25 Ways To Win with People.
John Maxwell menyatakan bahwa kita harus menarik hati seseorang dalam 30 detik pertama ketika memulai percakapan dengan mereka.
Strategi 30 detik sangat membantu dalam mengembangkan hubungan sosial yang tahan lama, baik di lingkungan pribadi hingga profesional.

Menciptakan Kesan Pertama yang Positif

Mayoritas dari kita ketika bertemu dengan orang lain, biasanya akan mencari cara untuk membuat diri kita terlihat baik, ntah itu dari pakaian, memperkenalkan diri hingga membanggakan diri sendiri. Namun, Kunci dari “30-Second Rule” adalah kebalikannya.  Carilah cara untuk membuat orang lain tampak lebih baik. Hal itu membantu kita berpikir secara positif dan mencari kualitas terbaik pada orang lain. Pada akhirnya, orang lain akan memunculkan perasaan baik terhadap Kita.

Psikolog Henry H. Goddard pernah melakukan penelitian menarik tentang efek dorongan, misalnya membangga banggakan lawan bicara, hingga memotivasi energi anak-anak. Kemudian penelitian ini mengungkapkan bahwa ketika anak-anak diberi penyemangat, tingkat energi mereka langsung melonjak. Sebaliknya, ketika anak-anak itu didiamkan, dikritik atau dianggap buruk, energi fisik mereka langsung menurun.

Membantu Dalam Persuasi

Dengan memberikan pujian atau komentar yang membesarkan hatinya, Kita akan membantu mereka merasa lebih nyaman karena mereka tidak perlu lagi terbebani untuk memberikan pembuktian “value” yang mereka miliki. Ini membuat mereka lebih santai dan terbuka kepada apa yang akan kita katakan.

Menciptakan Koneksi yang Kuat

Ketika seseorang benar-benar memuji orang lain, maka ketika itulah akan terbentuk cara orang lain melihat diri mereka sendiri, cara mereka bertindak, hingga cara orang lain melihat mereka. Orang-orang mulai melekatkan diri mereka pada reputasi positif yang sedang diciptakan untuk mereka, kemudian mereka bertindak secara konsisten dengan reputasi yang telah diciptakan. Hal ini pada akhirnya menimbulkan pendapat mereka tentang kita dan ingin tetap berhubungan.

Contohnya seperti pengalaman yang pernah saya alami. Kita sebut saja Bapak itu, Bapak A. Pada awal tahun 2020, saya berkenalan dengan Bapak A untuk menjalani proses interview pekerjaan. Beliau begitu antusias mendengar dari mana saya berasal. Selama 30 detik pertama, beliau begitu membanggakan asal saya hingga memprediksi potensi-potensi yang akan saya bangun kelak dengan muka yang berbinar-binar dan auranya yang begitu positif dan menyenangkan. Padahal saya berpikir saya bahwa pencapaian saya sangat biasa-biasa saja jika dibandingkan dengannya. Bahkan sejauh yang saya alami, orang yang telah memiliki pencapaian diri begitu tinggi, biasanya enggan terlihat membangga banggakan lawan bicaranya yang memiliki pencapaian lebih rendah di bawahnya.

Sampai akhirnya, hal itulah yang beliau katakan pula kepada rekan lainnya ketika. Mungkin hal ini juga yang turut mempengaruhi pribadinya, bahkan Sepanjang saya pernah melakukan kesalahan, emosinya tetap menunjukkan aura yang positif. Namun dengan begitu, saya akan terpacu atas perkataannya dan ingin membuktikan bahwa apa yang beliau katakan itu adalah benar. Selain itu, saya merasa lancar berkomunikasi dengannya selayaknya teman namun dengan rasa hormat yang justru sangat tinggi jika dibandingkan dengan atasan lainnya.  Awalnya saya pikir Bapak A memang memiliki sifat yang menyenangkan, namun selain sifatnya, beliau juga menerapkan teori ini.

Tunjukkan Keterampilan Kepemimpinan 

Role ini membantu kita fokus untuk terus mencari cara untuk memuji dan membangun orang lain. Berfokus pada orang lain adalah bagian penting dari memimpin orang lain. Orang-orang menjadi bersemangat dan termotivasi ketika pemimpin mereka menghargai mereka apa adanya. Mengucapkan kata-kata yang menyemangati memang luar biasa bagi seorang pemimpin dalam hal menginspirasi tim hingga mendapatkan loyalitas dari tim.

Pemberian Timbal Balik Investasi

Ketika “30-Second Rule” ini membuat orang terlihat begitu unggul, maka ia memiliki cara untuk kembali kepada kita, mungkin tidak secara langsung. Penerima kata-kata baik yang kita ucapkan akan mengingatnya dan mungkin membalas kata-kata baik atau menyampaikan perasaan itu kepada orang lain. Ini akan terbayar lebih banyak kelak dalam persahabatan dan hubungan kerja yang lebih baik.

Sekarang giliran kita…

Latihannya tidak rumit tetapi membutuhkan waktu, tenaga, dan disiplin.  Mungkin bagi sebagian orang ini bisa terkesan bermuka dua, atau akan sulit bagi mereka yang kurang nyaman dengan perkenalan pertama atau mungkin juga cara ini tidak efektif, semua kembali ke pribadi masing-masing.

Namun, Saya benar-benar dapat melihat perbedaan dalam bagaimana hal itu membantu saya ber-Networking dengan orang-orang dan menciptakan lingkungan yang positif di sekitar saya. Mulai sekarang, coba “30-Second Rule” dan lihat dampaknya pada orang lain dan diri kita sendiri.  Tetap dengan hal yang positif, katakan dengan tulus, dan jauhkan prasangka.

“Those who add to us, draw us to them.
Those who subtract, cause us to withdraw.”

-John Maxwell

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

25 Comments

  1. Kl menurut gw pribadi, hubungan sosial itu unik krn kita perlu tahu banyak ‘jurus’, krn setiap orang punya karakter yang unik..
    Kadang jurus A bisa sukses diterapin ke si X, tapi boleh jadi jurus B – lah yang bisa sukses saat diterapin ke si Y, dst..
    Tapi menurut gw ini salah satu strategi komunikasi yang bagus..
    dulu pas kuliah krn kebetulan gw ambil jurusan komunikasi, disebutnya strategi altercasting..
    Dan masuk jd bahan ajaran..
    Biar bagaimanapun, manusia terkadang lebih banyak ngambil keputusan berdasarkan hal2 yg ’emosional’ dibanding ‘rasional’, jd ada peluang buat strategi ini..

    Btw, nice sharing buar bukunya! 🙂

    1. Aku juga punya bukunya Maxwell yg the 360 derajat leader dan itu bagus banget sih.

      Trs tuh tips dan contoh2nya bener2 bisa langsung diterapin gitu.
      Aku belum baca nih yg 25 Ways To Win with People. Mau langsung coba cari deh bukunya hehe

  2. Woww seru juga ya teori “30 second rule” jadi semacem keg kita sebagai pendengar yang baik dan memberikan respons yang positif akan lawan bicara ya. Soalnya kalau ketemu orang baru aku cenderung bingung mau ngobrolin apaan, ternyata kita yang harus berusaha membuat lawan bicara yang banyak cerita ya. Nice info sis.

  3. Wah menarik sih ini buat diterapin di komunikasi sehari-hari. Keliatannya simple, tapi kenyataannya susah, apalagi buat saya yang sering kali ga nyaman untuk memulai pembicaraan di lingkungan yang baru.

  4. Hal-hal seperti ini akan menciptakan ikatan tertentu antara satu dengan yang lainnya. Terlihat sederhana, tapi perlu dilatih.

    Membuat orang lain nyaman dengan pembicaraan akan memberikan dampak yang positif ke kita sendiri. Salah satunya menciptakan kepercayaan orang lain terhadap diri kita.

    Artike yang bagus ta 😀

  5. Kak.. cara ini benar2 kepake banget buat aku yg kerja sehari2nya itu berhubungan langsung dengan klien. apalagi untuk klien baru, poin-poin yg kakak sebutkan di atas bener2 aku terapin ke semua klien aku dan benar2 memudahkan banget kerjaan ke depannya. tulisan yg baguss buat para pembaca

  6. Setelah membaca tulisan Mba Okta, saya jadi teringat cerita seorang teman yang kebetulan berprofesi sebagai seorang pengajar, dan dia bilang di satu kelas ditempat beliau mengajar, dia kurang bisa menguasai kelas itu (dalam hal interaksi dua arah), padahal beliau selalu berupaya untuk mengambil perhatian anak anak itu lewat berbagai cara cara nya dia, namun tetap saja katanya kurang pas, hal ini bahkan berlangsung semenjak kali pertama masuk di kelas itu, tentu saya tidak lah paham keadaan sebenarnya, tapi saya bisa mengambil sedikit asumsi, kalau teman saya ini gagal dalam poin pertama tadi “Menciptakan Kesan Pertama yang Positif”

  7. Intinya adalah kita harus belajar “menjilat dengan positif”. Jadi inget buku yg judulnya how to win & influence people (cmiiw), dia punya metode dan pengalaman yg sama.

  8. Baru tahu tentang teori 30 second rule, tips yang bagus buat diterapkan nih. Apalagi buat aku yang suka bingung menciptakan obrolan pertama dengan orang yang baru ditemui, Thanks sudah berbagi

  9. kesan pertama memang akan selalu membekas, seringnya malah jadi penentu hubungan ke depannya akan seperti apa, 30 second rule, baru tau juga kalo ada penelitian seperti ini, mau dicoba ah…untuk memperbaiki kualitas pertemanan

    nice sharing beb

  10. Aku pernah punya dan baca buku ini. Tapi aku gak selesai baca karena bosan hehe jadi aku sumbangin ke taman bacaan. Bukunya bagus, daging semua. Cuma bukan selera buku bacaanku aja sih. hehe

  11. Berpikir positif, katakan dengan tulus dan jauhkan prasangka…kesan pertama memang menentukan selanjutnya bagaimana orang menilai kita dan sebaliknya.Dan itu ada aturan yang mesti diperhatikan. Akhirnya itu yang tertanam di benak kita tentang seseorang.
    Nice sharing, Kak..reminder buatku yang kini kadang ketemu orang baru cenderung membuat jarak karena ada prasangka dan semacamnya

  12. wahahah lihat maxwell udah langsung keinget kuliah komunikasi yaa, emang ya impresi pertama ketika ketemu orang tuh penting banget, dari sana deh mulai dibangun jalinan komunikasi, nyaman engga, nyambung engga, cocok engga baik secara skill atau pun personality nya ya

  13. Betul banget nih, memuji lawan bicara ketika awal pertemuan memang sangat penting tetapi perlu digaris bawahi untuk ga berlebihan. Pada dasarnya semua orang suka dipuji dan disanjung tetapi kalau berlebihan ketawan carmuknya banget kayanya ya. Hahaha.

    Dari pujian biasanya udah enak banget kita masuk ke dalam obrolan. Tapi bisa jadi jurus ini ga begitu works diterapkan ke introvert ((bisa jadi)).

    Bagus nih bukunya untuk mengembangkan hubungan sosial.

  14. Sudah cukup sering juga saya membaca atau mendengar orang membicarakan buku 25 Ways to Win People nya Jhon C Maxwell . Antara lain bagaimana dengan : Kemampuan “30-Second Rule” Begitu Membantu Keterampilan Networking”. Menariknya lagi, kakak sudah menerapkannya. Belajar dari pengalaman orang lain itu menjadi suggested tersendiri. Noted with thanks kak Okta

  15. Wah menarik sekali pemaparannya kak Okta😀 Aku sukaaa😍 Apalagi juga ada pembahasan tentang anak-anaknya, aku makin setuju dengan hal-hal yang sudah kakak coba sampaikan melalui tulisan.
    Keren banget juga kak pengalaman dan ilmunya, luar biasa!
    So inspiring! Thank you so much kak Octa💗💗💗

  16. Wah menarik sekali pemaparannya kak Okta😀 Aku sukaaa😍 Apalagi juga ada pembahasan tentang anak-anaknya, aku makin setuju dengan hal-hal yang sudah kakak coba sampaikan melalui tulisan.
    Keren banget juga kak pengalaman dan ilmunya, luar biasa!
    So inspiring! Thank you so much kak Octa💗💗💗

  17. Boleh dicoba nih trik 30 detik pertama itu. Tapi menurut saya pribadi bener sih, kesan pertama itu sangat amat menentukan. Walau katanya font judge a book by it’s cover. Nyatanya masing-masing kita biasanya akan melihat orang dari penampilan hehe

  18. Pas baca artikel ini, seperti pernah baca, tapi nggak yakin. Apa hanya mendengar isinya dari orang lain, seperti dari motivator-motivator yang saya ikuti seminarnya.
    Karena di otak masih inget banget kalau 30 detik pertama itu bisa menciptakan hubungan sosial yang berkelanjutan. Tapi teringat lagi dengan 60 detik pertama dalam pembuatan video promosi yang bisa membuat audiences tertarik dengan produk kita (Otak dagang). Hihihi

    Artikel ini memberikan pengingat penting untuk saya, yang 2 hari kedepan ada jadwal persentasi.
    Thank you, kak.

  19. Wah ilmu baru nih 30 second rules ini seperti kesan pertama kita dalam menarik perhatian dalam komunikasi ya. Makasih kak rangkumannya. Lumayan nih dapat pengetahuan walaupun nggak full kalo baca bukunya

  20. Aku baru denger nih kak soal ini. Tapi kesan pertama pada seseorang itu memang penting sekali ya.

    Keren nih tipsnya, memuji orang lain itu nggak mudah lho, perlu pembiasaan dan keberanian juga.